Wednesday, January 8, 2025

Di nomor berapa?

Ada begitu banyak sabar yang harus disebar. Banyak sekali. Di setiap kita berusaha mencintai seseorang.

Konon katanya, bila kita mencintai seseorang karena “Aku suka dia karena dia begini dan begitu”, itu bukan lah cinta. Namun kekaguman. Dan kekaguman sifatnya sangat pendek, karena manusia itu makhluk yang dinamis. Bukan benda mati yang tidak mampu bergerak atau berubah bentuknya.

Karenanya di saat kita mencintai seseorang, seharusnya cinta itu hadir setelah kita melihat begitu banyak kekurangannya; namun tetap ingin menggenapkannya.

Cinta tak pernah sederhana. Akan ada perselisihan, saling menyalahkan, menangis karena hal hal sepele yang kerap begitu melelahkan. Namun cinta itu juga, yang akan kembali membuatmu pulih dan tumbuh di akhir senja.

Konyol rasanya seseorang merasa bahwa hubungan pacaran yang panjang, akan menjadikan dia (pasangan kita) adalah seseorang yang sangat amat kita kenal; hingga tak mungkin ada lagi kesalahan yang terlewat untuk mengakhiri sebuah hubungan–di kemudian hari. Kenyataannya; ya tidak mungkin.

Karena tak pernah ada yang tahu hari esok. Dan pasangan kita pun terus bertumbuh dalam setiap hari yang kita lewati bersamanya. Akan ada kesalahan yang baru, maaf yang kembali harus diucapkan, kekecewaan yang lagi-lagi datang. Dan itulah realitanya.

Apa yang mampu membuat seseorang mencintai kita sampai akhir, adalah rasa cintanya kepada Tuhan. Dan apa yang membuat kita mampu mencintai seseorang sampai akhir adalah rasa cinta kita kepada Tuhan.

Jadi, ada di nomor berapa Tuhan selama ini di hati kita?

Saturday, April 15, 2023

Mendidik Diri

Berkali-kali tersadar bahwa saat menjadi orang tua, bagian tersulitnya bukanlah di point mendidik anak. 

Tapi mendidik diri sendiri:) 

Mendidik diri untuk lebih sabar

Mendidik diri untuk menikmati proses dan mensyukuri setiap progres

Mendidik diri untuk meregulasi rasa marah 

Mendidik diri untuk menerima kekecewaan dan kegagalan 

Mendidik diri untuk menjadi teladan yang baik untuk anak 

Mendidik diri untuk tidak sombong. Bahwasanya sekecil apapun kebaikan yang terjadi pada anak, bukanlah semata hasil dari "didikan" kita. Tapi karena pertolongan izin dari Allah Azza Wa Jalla๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜‡

Thursday, March 9, 2023

Pesan Untuk Anakku

Dear Anakku...

Jika suatu hari nanti Allah berikan kamu kesempatan beribadah kepadaNya dengan peran menjadi orang tua, ingat-ingat pesan Ibu ya, Nak.

Jangan pernah merasa kamu mampu, teruslah meminta pertolongan kepada Allah dalam hal kecil apapun yang kamu lakukan.

Yakinlah jalanmu akan terasa ringan dan tenang dengan itu.

Peganglah terus Syariat dan janganlah menyelisihinya dalam perkara sesepele apapun.

Anakku, mungkin dalam perjalanannya nanti, akan ada orang yang tidak menyetujui caramu mendidik anakmu.

Mereka mungkin akan mengungkapkannya dengan sindiran bahkan secara terang-terangan.

Ketahuilah itu bukan suatu hal yang bisa kamu kendalikan, dan kamu pun tidak bisa memaksakan semua orang selalu setuju dengan caramu.

Belajarlah, nak. Ketika kamu belajar, kamu pun tidak punya waktu untuk menanggapi mereka, karena kamu punya bekal.

Dan kamu bisa memilih mana yang pendapatnya bisa dijadikan masukan, mana yang cukup di respon dengan senyuman.

Mungkin akan ada fase di mana kamu merasa kehilangan dirimu, atau merindu dirimu di masa lalu, dan itu tidaklah mengapa.

Menjadi orang tua adalah tentang perubahan ke sosok yang baru.

Di sini kamu akan tertantang, bahkan 'berperang' dengan diri sendiri. Kamu akan menyadari bahwa banyak sekali celah yang butuh diperbaiki.

Kamu akan berkali-kali menatap cermin sambil mempertanyakan kepantasan dirimu menjalani peran sebagai orang tua.

Kata orang, sebelum menjadi orang tua, ada baiknya 'selesai' dulu dengan luka di masa lalu. Tapi masalahnya, nak. Luka itu baru kamu sadari keberadaannya saat kamu menjadi orang tua. He he he.

Kamu sangat boleh mengejar mimpimu. Asal tetap dalam batasan. Asal tetap dalam koridor Syariat. Asal tidak melalaikan tugas-tugas utamamu di dunia saat ini.

Jangan campurkan anakmu dalam pengejaran ini. Karena perkara mimpi adalah tentang dirimu sendiri.

Jika memang rencana Allah mimpimu terwujud, maka kamu akan selalu dimampukan dalam perjalanannya.

Tapi jika mimpimu tak terwujud, jangan jadikan anakmu kambing hitam dan bilang kalo dia alasan kamu menunda mimpi. No.. No.. karena itupun merupakan rencana Allah, Allah yang sudah mengatur mimpimu tertunda atau tak tergapai.

Dan percayalah bahwa rencana Allah adalah yang terbaik.

Kemudian, kamu pasti akan berkali-kali merasakan ini. 

Bahwa menjadi orang tua adalah tentang bagaimana mendidik diri sendiri.

Kamu akan merasa berkali-kali membuat kesalahan, namu yang menjadi intinya adalah bagaimana kamu belajar dan memperbaiki kesalahan tersebut.

Buat anak kok coba-coba? Well, kenyataannya memang begitu, hidupmu akan penuh dengan percobaan, analisa, observasi, dan refleksi diri.

Teruslah berkontak dengan ilmu ya, anakku.

Dan ketahuilah..

Anakmu akan selalu punya hati yang luas untuk memaafkan ibu dan ayahnya. Jangan ragu untuk meminta maaf secara tulus kepada mereka.

Mungkin, kamu secara tidak sengaja menorehkan luka pengasuhan di hatinya.

Seperti ibu dan bapak yang juga tidak sengaja memberikannya kepadamu. Seperti juga luka pengasuhan yang tidak sengaja diberikan kakek nenek kepada kami dulu.

Itu merupakan pertanda bahwa orang tua adalah manusia biasa. Yang sangat bisa berbuat kesalahan, pun diberi akal untuk berusaha perbaiki salahnya.

Dan percayalah bahwa setiap luka akan ada obatnya. Baik itu diusahakan sendiri, atau harus dibantu para ahli.

Jadi, sisakan juga hatimu untuk memaafkan dirimu sendiri.

Salam sayang dari Ibu, teman bertumbuh dan belajar tentang kehidupan bersamamu.

Perempuan yang sampai saat ini masih akan terus berusaha belajar dan perbaiki diri untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya di dunia.

Perempuan yang sesekali melihat ke masa lalu dengan mata berkaca-kaca, dan masih berusaha mengobati luka-lukanya yang terkadang masih terasa perihnya.

Perempuan yang lemah tiada daya, yang hanya bisa berusaha dan bergantung pada Allah semata.

Perempuan yang memang tidak sempurna. Tapi juga merupakan yang cukup baik yang Allah pilih untuk menjadi Ibumu.

Salam sayang dari ibumu Nak❤️

Friday, September 2, 2022

Berjalanlah Hingga Kelak Sampai

Karena itu berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang pandai meredakan amarahmu, dan tetap setia memeluk bahkan di saat kamu berhasil membuatnya marah. -anonym

Saya tahu tidaklah mudah terlahir menjadi perempuan, terlalu banyak hal yang bisa diukur kurang dan lebihnya. Dan saya juga tahu bahwa tidak mudah untuk tetap menjadi dirimu sendiri, ketika hampir seluruh dari isi bumi ini senantiasa memeluk kepalsuan dalam hidup mereka. Saya pun pernah berdiri menjadi gadis kecil itu, yang begitu takut ditinggalkan dan terlupakan–hanya karena belum dirasa cukup cantik. Itu kenapa hingga di detik saya menulis kalimat ini, saya tidak pernah merasa kata ‘cantik’ adalah kata yang sebaiknya diciptakan.


Ada hari di mana hidup membuat saya tidak lagi percaya bahwa masih ada ketulusan yang mampu hadir di hati seseorang dan tumbuh menjadi bagian dari dirinya. Karena setiap hal yang diberi, adalah setiap hal yang kelak harus ditukar oleh sesuatu. Dan selalu begitu. Siapa yang masih bersedia menyayangi hanya karena ingin menyayangi saja, dan siapa yang masih bersedia memberi hanya karena ingin berbagi saja–adalah pertanyaan besar yang selalu membuat lubang di hati saya. Well, kamu boleh menyebut saya drama queen, but still, it happens all the time. Semakin saya tumbuh dewasa, semakin sulit saya menemukan manusia baik hati (seperti Patrick dan Spongebob) yang (walau pun mungkin bodoh tapi) senantiasa membawa ketulusan dalam pelukan mereka.


Bahwa jangankan teman baik, bahkan mereka yang darahnya sama mengalir saja bisa pergi–bila kita dianggap tidak cukup pantas untuk diakui sebagai teman atau keluarga. Sedihnya lagi, saat itu harus terjadi, maka akan menjadi hal yang aneh bila kita tidak bisa menerima keputusan mereka. Karena dunia yang kita pijak saat ini telah membenarkannya sebagai keputusan yang ‘wajar saja’.


***


Karena itu berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang akan dengan senang hati mendengarkan ceritamu bahkan bila isinya hanyalah tentang bagaimana kamu harus basah kuyup karena lupa membawa jas hujan saat mengendarai motor. Berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang tidak suka beralasan ‘aku nggak sempet  ngasih kabar, karena tadi buru-buru banget’, di setiap kali kamu khawatir hingga harus memastikan keberadaannya. Karena kalau bagi saya, tidak pernah ada hal yang bisa tidak sempat untuk dilakukan, bila memang menyediakan waktu untuk hal tersebut adalah hal yang dibutuhkan. That’s why I don’t wanna be the ‘right thing’. I want to be a choice. Saya selalu ingin diperhatikan dan disayangi bukan karena itu adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh pasangan saya. Saya ingin dia melakukannya, karena dia memang butuh untuk melakukannya. Karena tanpa menyayangi saya hidupnya tidaklah seutuh yang seharusnya, karenanya dia memilih untuk menyayangi saya.


Sayang adalah sesuatu yang tidak akan pernah memberatkanmu–karena bila pun nyatanya berat, kamu akan tetap ingin melakukannya–karena melakukannya adalah hal yang selalu berhasil membuatmu bahagia (pada akhirnya). Saya tidak bertanya apakah kamu bahagia hari ini, karena saya merasa itu adalah hal yang harus saya lakukan (sebagai pasanganmu). Saya bertanya, karena saya yang membutuhkannya. Saya butuh tahu apakah bahagiamu cukup hari ini, karena mengetahuinya adalah hal yang membuat saya lega. Sayang tidak pernah mau membiarkan diri saya menjadi pasangan yang pandai menghitung untung dan rugi dari mencintai setiap kelemahan yang ditemukan. Karena sayang adalah hal yang akan mengusahakan segala untuk tetap tinggal–selama hal yang harus dihadapi bukanlah penghianatan atau kebohongan.


Karenanya berjalan-lah hingga kelak bertemu dengannya, berjalan-lah dengan tetap teguh bertahan menjadi manusia baik hati–sebanyak apa pun kepedihan yang harus singgah di kedua bola matamu.