Karena itu berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang pandai meredakan amarahmu, dan tetap setia memeluk bahkan di saat kamu berhasil membuatnya marah. -anonym
Saya tahu tidaklah mudah terlahir menjadi perempuan, terlalu banyak hal yang bisa diukur kurang dan lebihnya. Dan saya juga tahu bahwa tidak mudah untuk tetap menjadi dirimu sendiri, ketika hampir seluruh dari isi bumi ini senantiasa memeluk kepalsuan dalam hidup mereka. Saya pun pernah berdiri menjadi gadis kecil itu, yang begitu takut ditinggalkan dan terlupakan–hanya karena belum dirasa cukup cantik. Itu kenapa hingga di detik saya menulis kalimat ini, saya tidak pernah merasa kata ‘cantik’ adalah kata yang sebaiknya diciptakan.
Ada hari di mana hidup membuat saya tidak lagi percaya bahwa masih ada ketulusan yang mampu hadir di hati seseorang dan tumbuh menjadi bagian dari dirinya. Karena setiap hal yang diberi, adalah setiap hal yang kelak harus ditukar oleh sesuatu. Dan selalu begitu. Siapa yang masih bersedia menyayangi hanya karena ingin menyayangi saja, dan siapa yang masih bersedia memberi hanya karena ingin berbagi saja–adalah pertanyaan besar yang selalu membuat lubang di hati saya. Well, kamu boleh menyebut saya drama queen, but still, it happens all the time. Semakin saya tumbuh dewasa, semakin sulit saya menemukan manusia baik hati (seperti Patrick dan Spongebob) yang (walau pun mungkin bodoh tapi) senantiasa membawa ketulusan dalam pelukan mereka.
Bahwa jangankan teman baik, bahkan mereka yang darahnya sama mengalir saja bisa pergi–bila kita dianggap tidak cukup pantas untuk diakui sebagai teman atau keluarga. Sedihnya lagi, saat itu harus terjadi, maka akan menjadi hal yang aneh bila kita tidak bisa menerima keputusan mereka. Karena dunia yang kita pijak saat ini telah membenarkannya sebagai keputusan yang ‘wajar saja’.
***
Karena itu berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang akan dengan senang hati mendengarkan ceritamu bahkan bila isinya hanyalah tentang bagaimana kamu harus basah kuyup karena lupa membawa jas hujan saat mengendarai motor. Berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang tidak suka beralasan ‘aku nggak sempet ngasih kabar, karena tadi buru-buru banget’, di setiap kali kamu khawatir hingga harus memastikan keberadaannya. Karena kalau bagi saya, tidak pernah ada hal yang bisa tidak sempat untuk dilakukan, bila memang menyediakan waktu untuk hal tersebut adalah hal yang dibutuhkan. That’s why I don’t wanna be the ‘right thing’. I want to be a choice. Saya selalu ingin diperhatikan dan disayangi bukan karena itu adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh pasangan saya. Saya ingin dia melakukannya, karena dia memang butuh untuk melakukannya. Karena tanpa menyayangi saya hidupnya tidaklah seutuh yang seharusnya, karenanya dia memilih untuk menyayangi saya.
Sayang adalah sesuatu yang tidak akan pernah memberatkanmu–karena bila pun nyatanya berat, kamu akan tetap ingin melakukannya–karena melakukannya adalah hal yang selalu berhasil membuatmu bahagia (pada akhirnya). Saya tidak bertanya apakah kamu bahagia hari ini, karena saya merasa itu adalah hal yang harus saya lakukan (sebagai pasanganmu). Saya bertanya, karena saya yang membutuhkannya. Saya butuh tahu apakah bahagiamu cukup hari ini, karena mengetahuinya adalah hal yang membuat saya lega. Sayang tidak pernah mau membiarkan diri saya menjadi pasangan yang pandai menghitung untung dan rugi dari mencintai setiap kelemahan yang ditemukan. Karena sayang adalah hal yang akan mengusahakan segala untuk tetap tinggal–selama hal yang harus dihadapi bukanlah penghianatan atau kebohongan.
Karenanya berjalan-lah hingga kelak bertemu dengannya, berjalan-lah dengan tetap teguh bertahan menjadi manusia baik hati–sebanyak apa pun kepedihan yang harus singgah di kedua bola matamu.
No comments:
Post a Comment