Sunday, June 17, 2018

Kenali Saya

Saya rindu sekali menulis yang jujur. Bukan, bukan berarti selama ini yang saya tulis adalah kebohongan. Lebih tepatnya saya hanya tidak menulis dengan lepas. Beberapa waktu ke belakang saya selalu menulis penuh dengan kekhawatiran-kekhawatiran, khawatir takut ada yang tersindir atau bahkan tersinggung dengan kata-kata yang saya tulis. Khawatir jika tulisan saya justru mempersulit hidup orang lain. Padahal, jujur saja saya tidak pernah berniat seperti itu. Tidak pernah terbesit melibatkan perasaan orang lain di dalam tulisan saya. Hanya ingin menulis apa yang saya rasakan. Terkadang bahkan yang saya tulis hanyalah rekayasa pikiran saya semata. Cerita-cerita yang saya tulis atas dasar imajinasi saya sendiri. Hanya, saya lebih suka menjadi tokohnya, agar pembaca tidak sedang merasa saya tengah membicarakan orang lain. Dan kekhawatiran saya akan satu dua hal belakangan ini justru menghambat imajinasi saya sendiri.

Jujur saja saya memang agak tertekan. Ada masanya blog bukan lagi jadi tempat di mana saya bisa menulis apa pun yang saya rasakan. Saya hanya menuliskan kejadian yang terjadi di sekitar saya, dan menyembunyikan hidup saya sendiri. Blog jadi tempat di mana saya kerap mengkhawatirkan perasaan orang lain yang membacanya, padahal dulu tidak seperti itu. Saya terseret di dalam drama orang-orang di sekitar saya, padahal ya hidup saya ini kurang drama apa lagi coba? Sigh. Saya mencoba terus menjaga perasaan orang-orang yang pada akhirnya malah menyingkirkan perasaan saya sendiri.

Setiap kali menerima kritik dan masukan saya selalu memikirkan hal itu baik-baik, dalam-dalam, bahkan terkadang terlalu serius. Walau di muka saya tampak acuh, aslinya saya adalah orang yang pemikir. Saya suka sekali dikritik. Bahkan saya lebih suka kritik dari pada pujian. Tapi kan tidak semua orang pandai menunjukkan bahwa dirinya tengah memikirkan sesuatu.

2012 memang bukanlah tahun yang baik untuk membicarakan perihal perasaan, terlalu banyak saya telah kehilangan di tahun lalu. Seseorang, sahabat, mimpi-mimpi yang harus saya tunda. Melewatinya dengan tetap menjadi manusia yang waras bukanlah perkara mudah. Di mana lagi saya bisa meletakkan urusan perihal cinta? Hati saya sudah sesak dengan kehilangan. Saya akui pandangan saya soal hidup dan cinta berubah banyak sepanjang 2012. Kalau mereka yang mengenal saya dengan baik, mereka pasti merasakan perubahan itu. Tapi percayalah, itu adalah usaha terbaik yang bisa saya lakukan, maafkan jika saya mengecewakan beberapa orang, beberapa hati. Sungguh maafkanlah saya.Tapi segala perubahan yang terjadi adalah upaya saya untuk melindungi hati dan hidup saya yang cecel-bocel agar setidaknya tetap bisa utuh saya pakai di tahun ini. Saya terluka banyak, dan saya menyembuhkannya sendirian. Bukan berarti saya tidak menghargai mereka yang dikirim Tuhan sebagai penghibur saya, tapi pada kenyataannya saya memang lebih memilih menyimpan hidup saya rapat-rapat.

Tapi seberapa berat beban hidup yang harus saya pikul, sayalah yang merasakannya sendiri. Kamu tahunya kan hanya melihat dan menilai. Tahunya hanya menyangka dan menyimpulkan. Kamu sungguh tidak tahu apa-apa. Karena toh saya memang hanya bercerita pada Tuhan saja.

Fiuh.. tentu saja saya tidak bisa selalu menyenangkan hati semua orang, tidak bisa selalu mengedepankan perasaan orang lain. Tapi apa mereka yang berbicara seperti itu pada saya selalu siap untuk mendengar kejujuran dari saya?

Saya beritahu, 80% isi kejujuran itu pahit. Bila setiap manusia memilih untuk mengatakan segala yang ada di kepalanya, saya yakin dunia ini sudah hancur dari jaman Dinosaurus. Bayangkan bila setiap kali kamu tidak meyukai seseorang atau sesuatu dan kamu mengatakan langsung di depan orang itu maka apa yang akan terjadi? Saya tahu jujur itu baik, tapi menyimpan hal yang tidak patut diucap bukanlah berbohong.

Pada kenyataanya, setiap kali saya dituntut untuk terbuka, saya justru kerap didiamkan. Katanya mau mendengar yang senyata-nyatanya? Katanya mau mengerti yang sebenar-benarnya? Kalau ternyata kenyataan yang saya ungkapkan tidak sesuai dengan cara pandang hidup atau prinsipmu, kamu pasti akan kecewa. Walau pada kenyataannya, saya tidak pernah berniat membuatmu kecewa atau merasa tidak nyaman.

Jadi katakan saja siap, bila memang benar siap mendengar kejujuran dengan kepala dingin. Siap mencari jalan keluar jika ternyata kita berbeda. Jalan keluar yang bukan saling membelakangi atau mendiami.

Saya meyakini bahwa tidak semua kebenaran perasaan harus ditunjukkan. Menyimpannya bukan berarti berbohong. Belajar menyimpan sesuatu yang tidak sepantasnya diungkapkan melatih kebijaksanaan yang ada di dalam diri kita. Belajar untuk tidak egois dan mau benar sendiri. Karena nyatanya mereka yang menuntutmu untuk berterus terang belum tentu siap mendengar kejujuranmu.

Yah.. saya mengerti dengan baik kalau saya ini orangnya rumit. Saya sulit ditebak. Saya pandai sekali menutupi kekhawatiran hingga banyak sekali yang merasa tidak apalah mengecewakan Vi sedikit, toh dia mudah lupa nantinya, toh dia sulit marah, toh dia pasti akan maafkan. Saya kerap terlihat tidak peduli, padahal saya menyaksikan dan menilai semua hal secara rinci dan teliti.

Diam-diam begini saya pun menilai dan menyaksikan kalian. Diam-diam saya pun terus mendoakan mereka yang saya sayangi, agar suatu hari nanti Tuhan tunjukkan pada mereka bahwa saya tidak pernah berhenti bicara soal kebaikan-kebaikan mereka kepada Tuhan. Merayu Tuhan agar menjaga mereka setiap waktu untuk saya, karena saya mungkin tidak bisa setiap waktu selalu ada untuk mereka.

Saya terkesan sedang pencitraan ya? Hahaha, apalah yang bisa dibanggakan dari gadis desa ini, yang tinggal dua batang kara bersama Ibunya. Saya tidak punya apa pun untuk membuat kalian iri. Percayalah.

Hati yang baik selalu tahu mana yang harus disimpan dan mana yang harus ditunjukkan. Dan kita harus selalu bisa memahami kenapa seseorang lebih memilih tidak bicara sama sekali, karena mereka pasti punya alasan kuat untuk melakukannya. Setidaknya saya masih belum lelah menjaga perasaan orang-orang yang saya sayangi. Walau tetap saja saya masih kerap jadi yang disalahkan. Tidak apa-apa.

Kamu sayang atau tidak pada saya sih itu urusanmu sama Tuhan. Saya sayang kamu atau tidak pun adalah urusannya saya dengan Tuhan saya.

Walau pada kenyataanya, mereka yang mengenal saya secara langsung saja tidak bisa mengenal saya dengan sepenuhnya. Apalagi yang hanya mengenal saya dari dunia maya.

Tidak ada yang bisa melebihi kekuatan tatapan mata langsung dan banyaknya waktu bertemu untuk bersama-sama saling mengenali. Tidak akan pernah ada.

Tidak akan ada perhatian yang melebih kekuatan perhatian yang disampaikan langsung. Seperti tidak akan ada yang melebihi kekuatan pelukan dan genggaman tangan. Tidak akan pernah ada.

Semua alat komunikasi yang diciptakan, justru semakin menjauhkan kita dalam mengenal baik orang lain.

Jadi menyimpulkan seseorang begini dan begitu hanya dari tulisannya adalah omong kosong. Segala pujian bisa hilang saat mata dipertemukan. Segala angan-angan baik bisa menguap saat saling bertatap.

Kenali saya dengan baik. Berhenti mereka-reka yang baik, yang belum tentu benar sebaik itu.

Selamat membaca saya yang sebenarnya di Tahun ini ;)

Lia Selvia


Tuesday, June 5, 2018

Pahami

Ngga banyak orang yang bisa paham saya. Tapi saya juga ngga keberatan. Hidup ya hidup aja. Ngga usah hobi ngerepotin orang.

Saya paling ngga paham sama orang yang usaha banget biar keliatan ‘berkelas’. Dan yaudah hidupnya bukan urusan saya juga.

Walau pun kadang keikhlasanmu ngga dihargai, tapi Allah Maha Melihat. Ngga ada yang luput dari pandangan-Nya. Hitungan-Nya selalu adil.

Kamu tahu saya pernah menyayangimu. Kita tidak perlu mengulang-dan-mengingat hal yang sudah berlalu. Itu melelahkan.

Kau tahu aku menyayangimu, sesederhana caramu mencium telapak tangan ibumu setiap kali kalian harus berpisah.

Sayangmu, senyaman genggaman tangan ibu di setiap kali saya menyebrangi jalan bersamanya sewaktu saya kecil.

Kita duduk berdua di sebuah sofa yang kenyal. Aku bersandar di pangkuanmu, dan kamu membiarkanku memegang kendali pada remot tv. Bahagia.

Selalu ada jalan untuk pergi, saya selalu memiliki pintu itu untukmu. Tapi tidak lantas kamu bisa se-enaknya datang kembali.

Setiap kali merindukanmu saya memanggil diri saya; bodoh. Dan setelah melakukannya, saya justru semakin merindukanmu. Bodoh.

Tidak ada yang lebih penting dari menyayangi hatimu lebih dulu. Tetapi cinta terkadang mengaburkan dirimu dari pandanganmu sendiri.

Saya merindukan pria yang tidak mendewai diri mereka sendiri.

Apa yang bisa diisi dari hidup seseorang yang penuh pikiran tentang dirinya sendiri saja? Hanya ada: saya mau begini dan kamu harus begitu.

Aku tengah memeluk awan, lalu menjelma uap; dan berencana jatuh menjadi titik embun yang melekat di jendelamu esok pagi.

Pria yang bahkan tidak mampu meyakini Tuhan-Nya, bagaimana bisa diyakini janjinya?

Karena kekosongan yang paling sepi, adalah ketika kau tidak membiarkan dirimu; mempercayai apa pun yang tidak mampu kamu lihat.

Kalau kamu bilang saya terlalu baik untukmu; mungkin memang benar, kamu tidak sepantas itu untuk saya.

Pada akhirnya, ketika kamu dilupakan lebih dulu. Hidup menjadi terasa tidak adil bagi yang mengingat lebih lama.

Ketika kamu berkaca pada hati yang tepat, kamu akan mampu melihat; bahwa kelemahanmu-lah yang membuatmu dimilikinya.

Kalau kebaikanmu membuat mereka meremehkan kehadiranmu, teruslah berbuat baik agar mereka menyesal.

Cinta tak selalu mampu menerima kelemahan, tapi iman selalu bersedia melakukannya.

Kalau suatu hari pria yang telah kamu sayangi dengan baik pergi, bersyukurlah atas seseorang yang lebih baik, yang sudah Tuhan persiapkan.

Senyummu di stoples ingatan saya sudah hampir habis, kita perlu bertemu untuk kembali mengisinya.

Sini duduk di sisiku, lalu kita tertawakan segala yang buruk di hari ini.

Saya tahu, ibu saya akan hidup sepanjang yang dia mampu demi saya. Saat dia pergi, dia hanya harus melakukan apa yang Tuhan tetapkan.

It’s really hard trying to be normal. I am not a normal person at all. I mean, I am proud to be weird.

Pada tatapmu yang bukan untukku, aku belajar mencintai kesunyian. Dan bahwa riuh, tak selamanya sepi akan luka.

Satu-satunya hal di dunia ini yang tidak butuh pilihan adalah kematian. Selebihnya kamu harus berani memilih.

Ketika beberapa hal tidak berjalan dengan semestinya, pikiranmu harus tetap berjalan dengan sebaik-baiknya.

Ketika kamu terlalu mementingkan dirimu saja, seseorang yang lain, yang menganggapmu amat penting, hilang tanpa sempat kausadari.

Menemukan seseorang yang mampu membuat hatimu berkata; aku bersedia menunggu selamanya untukmu.

-Fa(vi)

Monday, June 4, 2018

Tiba

ada dunia yang hilang dari duniaku saat kau tak ada

ada suara yang hilang dari kepalaku saat kau tak ada

ada sepi yang betah

ada lara yang mengaga

mungkin kau tak ingat bagaimana bentuk senyumku saat aku tersenyum untukmu saja

mungkin kau tak ingat bagaimana nada suaraku saat aku bercerita padamu saja

hal hal yang pernah menjadi tak hanya sekedar hal hal bagi kita

terkadang aku menemukanmu di dalam hatiku tapi sengaja tak kusapa

terkadang aku mendengarmu di selipan angin angin tapi sengaja melewatkannya

katanya waktu akan mengantarkanku ke situ

ke masa di mana aku tidak perlu lagi sengaja melewatkanmu

katanya sabar akan menuntunku ke sana

ke masa di mana kau bukanlah sesuatu yang takut untuk kulepaskan

aku harap waktu cukup mengenalku hingga kelak mereka mau menyapa saat giliranku tiba

tiba untuk berhenti mencintaimu

-Fa(vi)

Berlalu

Sekarang kamu begitu kabur dari pikiran saya, saya hanya ingin mengingatmu sebentar saja. Akan tetapi, dan entah mengapa begitu sulit mengingatmu.

Mengapa? Saya hanya ingin mengingatmu sebentar saja, dan ingin merindukanmu sebentar saja. Tapi keinginan itu tak mampu menjelma menjadi nyata, bahkan diri saya sendiri tak mampu mengabulkan keinginan saya.

Bukan saya tak ingin mengingatmu, tetapi rasa ini yang menguasai diri saya yang memang seharusnya dan di haruskan bahwa yang telah pergi tak perlu kamu kembalikan.

Seketika hati yang pernah kamu tinggalkan dan yang pernah saling memiliki, bahkan tak ingin sama sekali untuk saling melepaskan. Nyatanya tidak, kamu dan saya sudah sepakat untuk berpisah, kamu yang memilih jalanmu dan saya yang memilih jalan saya sendiri.

Saya pernah berharab bahwa hidup saya akan saya habiskan bersamamu, tetapi apa yang saya dapatkan dari harapan saya sendiri? Hanya luka yang saya dapat.

Terkadang saya geli mengharapkan sesuatu yang memang tak pantas untuk saya harapkan, bukankah harapan-harapan yang bisa menjelma menjadi nyata adalah mengharapkan dari-Nya.

Ketika saya duduk di tepi jendela dan menatap bintang, saya begitu tenang dengan keadaan saya sekarang. Saya tau bahwa mengingat sesuatu yang memang harus dilupakan tak pantas untuk di ingat lagi dan mengingatnya hanya menyesakkan dada.

Saya yang mewakili hati saya, saya sangat bersyukur bahwa sesuatu yang "baik" pergi tak perlu untuk di sesali. Saya yang menganggap kamu baik dari pandangan saya, tetapi tidak dari pandangan-Nya.

Terimakasih kamu yang pernah hadir dan mengisi hari-hari saya dan yang pernah memperjuangkan saya dengan begitu sangat. Saya sama sekali tidak menyesali pertemuan kita, karena saya tau pertemuan kita adalah atas izin dari-Nya. Dan juga saya sangat mensyukurinya karena kamu saya paham akan perjuangan dan saya mengerti bahwa berjuang di akhir takkan pernah bisa mengembalikanmu.

Saya yang dengan keadaan saya sekarang, saya harap kamu mengerti bahwa bahagia saya tidak selalu denganmu, kamu yang pernah bersama saya mari kita saling mengikhlas dan berdamai untuk tidak saling mendendam. Pahamilah dan kamu "Berbahagialah". Kamu dengan hidupmu saya dengan kehidupan saya, kita tak lagi sama.                                                                                                                                                                                                         

Terimakasih.

Sunday, June 3, 2018

PALSU

Belakangan ini saya dihadapkan dengan begitu banyak pelajaran hidup, bukan, bukan hanya hidup saya saja, tapi juga bagaimana orang-orang di sekitar saya menjalani hidupnya sendiri-sendiri.

Well, satu yang saya pikirkan benar-benar adalah bagaimana kamu harus berani menjadi baik bagi dirimu sendiri. Bukan berani mencitrakan diri sebagai orang baik, tapi mencoba setengah mati menjadi orang baik itu.

Saya dipertemukan dengan beberapa orang perempuan yang, bila kamu lihat dari luar mereka tampak cantik, lemah lembut, menutup auratnya, tapi nyatanya, mereka punya kepribadian yang sangat disayangkan untuk mereka miliki. Saya juga dipertemukan dengan beberapa orang pria yang, bila kamu lihat dari luar mereka tampak tampan, berkecukupan, pandai, populer, dll, tapi ternyata mereka punya kepribadian yang sangat disayangkan untuk mereka milki.

Saya bukan manusia baik, jauh sekali dari baik. Saya masih suka membicarakan orang lain, atau masih suka membandingkan hidup saya sendiri dengan orang di sekitar saya, lalu saya pun mampu seketika merasa tidak beruntung.

Terkadang sebuah pertanyaan muncul di kepala saya; duh kurang apa sih dia, fisik baik, otak baik, isi dompet baik, tapi kenapa masih saja dengan mudah melakukan hal-hal yang dilarang Tuhan? Lalu saya pun mulai merasa kesal dengan diri saya sendiri, karena merasa cukup pantas mempertanyakan perihal hidup orang lain, di saat saya bahkan tidak pernah ‘merasakan hidup’ menjadi mereka.

Tapi kalau ternyata alasannya adalah kemalangan yang pernah mereka lalui di masa lalu, atau kelemahan yang mereka miliki detik ini, bukankah itu terlalu klisesekali. I mean, come on, siapa manusia yang tidak punya masa lalu, siapa manusia yang tidak pernah melewati hari berat di dalam hidupnya, siapa manusia yang tidak punya kelemahan? TIDAK ADA.

Ketika ada seseorang yang mampu bertahan hidup dengan memilih tetap menjadi manusia baik-baik, maka sesungguhnya siapa pun pasti mampu.

Tidak ada alasan yang bisa dijadikan pembenaran, untuk melakukan hal-hal tidak baik, apalagi yang luar biasa tidak baik.

Saya sedih sekali, setiap kali berpikir, bahwa mungkin semua orang sudah bosan berusaha menjadi yang terbaik yang mampu mereka bisa.

Saya sangat bersyukur, karena sampai detik ini saya tidak pernah berusaha tampak keren, bila hanya untuk bisa dihargai oleh orang-orang di sekitar saya. Saya tidak perlu pengakuan dari orang-orang yang merasa hanya pantas bergaul dengan kalangan tertentu saja. Karena saya percaya, seburuk apa pun hidup saya berjalan, selama saya masih punya Tuhan, maka masih akan ada sayang yang tersisa untuk saya miliki.

Saya juga tidak pernah berusaha jadi ini itu agar orang yang saya sayangi, mau tetap berada di sisi saya. Selama saya tahu, bahwa selama ini saya tidak pernah memperlakukan mereka dengan buruk, saya tidak berbohong atau menghianati, maka kalau mereka tetap memutuskan untuk pergi, mereka punya hak untuk melakukannya. Saya tidak perlu disayangi kembali oleh orang-orang yang bahkan tidak bisa memeluk saya seutuhnya. Ketika mereka pergi, saya hanya meyakini satu hal, bahwa mereka baru saja kehilangan satu ketulusan yang saya siapkan untuk mereka. Dan saya bukanlah bagian yang dirugikan atasnya.

Banyak sekali orang palsu di sekelilingmu. Maka bila kamu bertemu yang masih mau jadi dirinya sendiri dan menerimamu sebagai kamu yang sebenarnya, simpan mereka sebagai harta karun. Karena terkadang Tuhan, tidak memberi mereka kesempatan untuk dua kali lewat dalam hidupmu.

-Fa(vi)

PS: SELVIA CAPEK NGELIAT ORANG PALSU. NATAP ORANG PALSU. PURA-PURA NGGA TAU KALO MEREKA PALSU.

Saturday, June 2, 2018

Teruntuk Kalian

Teruntuk kalian yang telah mengenali saya, terimakasih sudah bersedia bertukar pendapat dengan saya, bercengkerama dengan saya hingga larut malam walapun topik pembahasan masih saja ada seakan tak pernah habis.

Mungkin kalian sudah mengenal betul bagaimana saya, dan mungkin ada juga yang berdiam diri untuk menahan agar tidak menyapa saya.

Kalian yang sudah tau bagaimana karakter saya, kepribadian saya, bahkan apa saja yang tidak saya sukai. Mungkin saja di antara kalian berfikir ataupun berpendapat tentang saya yang bagaimanapun itu saya tidak akan pernah menyalahkan kalian. Karena setiap orang punya persepsi nya masing-masing.

Terkadang saya pernah bertanya pada kalian yang begitu dekat dengan saya "bagaimana diri saya menurut kalian". Ya kalian menjawab sesuai apa yang telah kalian kenali dengan diri saya.

Teruntuk kalian yang menjadi teman dekat saya, terimakasih sudah bersedia menjadi teman baik saya.

Yang menganggap saya baik, kalian salah. Saya tidak baik. Saya sama seperti kalian yang masih belajar untuk menjadi baik. Dan yang menganggap saya buruk kalian tidak salah, karena saya masih saja berusaha menjadi lebih baik. Pernahkah kalian berfikir? Bahwa pernah buruk itu proses, tetapi menjadi baik adalah kewajiban.


Waktu

Waktu adalah hal yang tidak akan pernah kembali. Tidak, walau pun kita berteriak sampai suara kita ikut menghilang, walau kita menangis hingga mata kita enggan untuk terbuka.

Waktu adalah hal yang akan senantiasa berjalan ke depan tanpa ragu. Seberapa pun hati kita penuh dengan kebimbangan untuk melangkah, waktu akan dengan senang hati melindas kita bila kita memutuskan untuk berhenti.  

Saya termasuk manusia yang tidak suka ditunggu. Bagi saya, membuat seseorang menunggu adalah hal yang memalukan. Memalukan bagi diri saya sendiri. Itu kenapa, saya selalu berusaha sekuat tenaga untuk datang tepat waktu, atau justru lebih dulu sampai dari waktu yang sudah dijanjikan. Karena waktu sangat erat kaitannya dengan menepati sebuah janji. Kita, bahkan bisa menilai kepribadian seseorang dari seberapa baik dia memperlakukan waktu yang berjalan di dalam harinya. 

Saya juga paling tidak suka ditunggu karena saya begitu paham, bahwa menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tidak ada seorang pun yang dengan senang hati mau menerima keterlambatan, atau sebuah janji yang diingkari dengan kesengajaan. 

Hidup saya, saya lewati dengan begitu banyak penantian yang menyebalkan. Karena bagaimana pun, sebagian besar manusia memang biasa hidup dengan kemudahan melepas janjinya sendiri. Tapi karena saya cenderung bodoh, saya bisa terus menunggu sampai berjam-jam terlewati. Saya akan terus duduk di tempat yang sama dan mencoba membunuh waktu dengan melakukan hal apa pun yang bisa saya lakukan. Memandangi langit, mengomentari seseorang yang berjalan melewati saya, menatap layar ponsel, membuka kembali notifikasi yang sebelumnya sudah terbuka, atau bahkan mencoba membunuh waktu dengan terus memandangi jam yang terikat di pergelangan tangan saya. Memastikan bahwa bukanlah saya yang sedang berdiri sebagai seseorang yang tidak menepati janjinya sendiri.

-Fa(vi)

Menjadi Diriku

Seringkali aku berfikir bahwa denganmu aku merasakan kebahagiaan yang tak pernah ku dapat kan dengan lelaki lain, ternyata salah. Apakah pemikiran semacam itu sangat dangkal?

Nyatanya selepas berpisah denganmu aku merasakan banyak hal-hal baru yang menurutku sangat istimewa dan pelajaran-pelajaran yang begitu bermakna untuk di ceritakan kembali.

Sekarang aku menjadi diriku, selepas berpisah denganmu aku mengerti bahwa semua yang kita miliki pasti akan pergi. Boleh saja sekarang kalian begitu takut kehilangan seseorang yang kalian cintai, tetapi ingat satu hal. Bahwa yg kamu miliki sekarang tak akan pernah selamanya.

Seperti hal nya kehidupan. Itu artinya setiap kata selalu mempunyai antonym. Jikalau kehidupan pasti ada kematian, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Cepat atau lambat semua itu akan terjadi.

Menjadi diriku, aku sangat bersyukur menjadi diriku yang sekarang, karena aku tau aku tidak begitu kehilangan diriku selepas berpisah denganmu.

Aku masih bisa menopang diriku sendiri dengan kedua kaki ku, dengan jiwa ku dan hati ku yang tak tertinggal denganmu.

Jangan tanya kenapa aku bisa berada di titik sekarang yang tak ada lagi kata "kita". Bukan kah dengan terus berjalan membawa diri dari tempat yang tak menginginkan aku tinggali itu bisa membuatku bahagia. Tidak, tidak akan pernah bahagia. Jika memang tak di ingini ada mengapa memaksakan untuk terus ada?

Percayalah dengan kepergian pasti akan menemukan kebahagiaan.



Cermin

Aku tidak ingat kapan pertama kali melihat pantulan diriku sendiri. Apa aku menyukainya atau aku justru membencinya saat itu. Yang aku tahu, semakin aku dewasa, aku semakin malas berlama-lama memandangnya. Bukan berarti aku tidak menyukai apa yang aku lihat di dalam cermin saat aku menatapnya, justru aku merasa bahwa tak ada yang perlu lagi dikoreksi, Tuhan sudah lebih dulu mengkoreksi penampilanku—bahkan sejak sebelum aku dilahirkan. Dia adalah penimbang terbaik, kenapa bibirku harus tebal, kenapa kedua mataku harus lebar, kenapa kulitku harus coklat manis, kenapa rambutku begitu lebat sampai-sampai aku malas menyisirnya.

Aku punya segalanya. Aku punya sepuluh jari kaki dan sepuluh jari tangan. Tidak ada bilangan yang tidak genap dalam tubuhku. Jadi, apalagi yang harus aku tuntut? Semua, sudah berada di tempat yang semestinya. Dan terima kasih Tuhan, karena aku lengkap dan aku menyadarinya.

Aku Mengerti

Sekarang aku mengerti tidak ada yang benar-benar tulus dan ikhlas menerima kenyataan bahwa hatinya telah tersakiti.

Ada beberapa hal yang membuat seseorang betah bertahan dengan kesendirian, kau tau kenapa? Mungkin ada yang telah merencanakan sesuatu untuk bisa kembali.

Kau tau kembali untuk apa? Ada yang kembali hanya ingin membalaskan dendam, iya dendam luka hatinya yang tak kau ingat bahwa kau dengan sangat kejam telah menyakitinya.

Ada yang bertahan dalam kesendirian hanya untuk memperbaiki diri nya, agar bisa kembali dengan seseorang yang telah di yakini nya untuk menjadi teman hidup nya.

Kau boleh berpendapat apa yang ada di dalam pikiranmu, tidak ada yang melarang. Hanya saja kau harus memahami betul apa motif di balik dia bertahan dalam kesendirian, agar kau tau bahwa yang serius tak akan pernah menunggu tetapi menyapa dan langsung menemui orang tua mu. Percayalah lelaki yang bertanggung jawab tidak perlu banyak janji tetapi pembuktian.

Kita

Aku cerewet, aku tak ingin membuatmu lelah mendengarkanku
Aku ceroboh, aku tak ingin membuatmu lelah mengingatkanku
Aku cengeng, aku tak ingin membuatmu lelah menghiburku
Aku rapuh, aku tak ingin membuatmu lelah menguatkanku

Ini bukan tentang siapa yang lebih mampu melengkapi kelemahan
Ini bukan tentang siapa yang lebih bersedia mencintai kekurangan
Ini tentang aku yang menyayangimu, dan terlalu khawatir
Ini tentang aku yang menyayangimu, dan terlalu sayang

Kita bukan hanya aku. Karena setiap masalah yang akan dihadapi, selalu menjadi kita.
Kita bukan hanya kamu. Karena setiap kebohongan yang coba digenggam, selalu menjadi kita.

Aku menyayangimu, tapi aku tak ingin kamu lelah menyayangiku
Aku tahu kamu menyayangiku, maka bicaralah tentang kelelahanmu
Biar kita coba jalani segalanya berdua
Biar tak ada yang merasa lebih banyak berusaha
Karena kita, adalah kamu dan aku

-Fa(vi)

Disini Aku Menantimu

Untukmu, yang akan menggenapi separuh agamaku
Disini, aku menantimu dalam penjagaan hati
Kutitipkan hati ini pada Illahi
Agar terjaga dari nafsu hati

Kita, yang masih terpisah oleh jarak dan waktu
Dibumbui oleh rindu yang tak berujung
Untuk tak saling menyapa dalam tatapan muka
Namun ramai merangkai doa
Menyampaikan doa terbaik pada sang pemilik hati

Berjuang dalam sebuah penantian yang tak mudah
Untuk memantaskan diri

Karena bersanding denganmu adalah harapan
Menua bersamamu adalah kebahagiaan
Dan se-surga denganmu adalah tujuan

Berjuanglah disana
Akupun berjuang disini
Lakukan dengan yakin
Agar Allah meridhoi
Bahwa kita layak untuk bersanding

Dariku, yang jauh dari kata sempurna
Yang terus berusaha memantaskan diri
Yang terus menjaga kehormatan hati
Yang senantiasa bersabar dalam penantian ini

Semoga Allah mempertemukan kita di waktu yang tepat
Semoga💛