Saya rindu sekali menulis yang jujur. Bukan, bukan berarti selama ini yang saya tulis adalah kebohongan. Lebih tepatnya saya hanya tidak menulis dengan lepas. Beberapa waktu ke belakang saya selalu menulis penuh dengan kekhawatiran-kekhawatiran, khawatir takut ada yang tersindir atau bahkan tersinggung dengan kata-kata yang saya tulis. Khawatir jika tulisan saya justru mempersulit hidup orang lain. Padahal, jujur saja saya tidak pernah berniat seperti itu. Tidak pernah terbesit melibatkan perasaan orang lain di dalam tulisan saya. Hanya ingin menulis apa yang saya rasakan. Terkadang bahkan yang saya tulis hanyalah rekayasa pikiran saya semata. Cerita-cerita yang saya tulis atas dasar imajinasi saya sendiri. Hanya, saya lebih suka menjadi tokohnya, agar pembaca tidak sedang merasa saya tengah membicarakan orang lain. Dan kekhawatiran saya akan satu dua hal belakangan ini justru menghambat imajinasi saya sendiri.
Jujur saja saya memang agak tertekan. Ada masanya blog bukan lagi jadi tempat di mana saya bisa menulis apa pun yang saya rasakan. Saya hanya menuliskan kejadian yang terjadi di sekitar saya, dan menyembunyikan hidup saya sendiri. Blog jadi tempat di mana saya kerap mengkhawatirkan perasaan orang lain yang membacanya, padahal dulu tidak seperti itu. Saya terseret di dalam drama orang-orang di sekitar saya, padahal ya hidup saya ini kurang drama apa lagi coba? Sigh. Saya mencoba terus menjaga perasaan orang-orang yang pada akhirnya malah menyingkirkan perasaan saya sendiri.
Setiap kali menerima kritik dan masukan saya selalu memikirkan hal itu baik-baik, dalam-dalam, bahkan terkadang terlalu serius. Walau di muka saya tampak acuh, aslinya saya adalah orang yang pemikir. Saya suka sekali dikritik. Bahkan saya lebih suka kritik dari pada pujian. Tapi kan tidak semua orang pandai menunjukkan bahwa dirinya tengah memikirkan sesuatu.
2012 memang bukanlah tahun yang baik untuk membicarakan perihal perasaan, terlalu banyak saya telah kehilangan di tahun lalu. Seseorang, sahabat, mimpi-mimpi yang harus saya tunda. Melewatinya dengan tetap menjadi manusia yang waras bukanlah perkara mudah. Di mana lagi saya bisa meletakkan urusan perihal cinta? Hati saya sudah sesak dengan kehilangan. Saya akui pandangan saya soal hidup dan cinta berubah banyak sepanjang 2012. Kalau mereka yang mengenal saya dengan baik, mereka pasti merasakan perubahan itu. Tapi percayalah, itu adalah usaha terbaik yang bisa saya lakukan, maafkan jika saya mengecewakan beberapa orang, beberapa hati. Sungguh maafkanlah saya.Tapi segala perubahan yang terjadi adalah upaya saya untuk melindungi hati dan hidup saya yang cecel-bocel agar setidaknya tetap bisa utuh saya pakai di tahun ini. Saya terluka banyak, dan saya menyembuhkannya sendirian. Bukan berarti saya tidak menghargai mereka yang dikirim Tuhan sebagai penghibur saya, tapi pada kenyataannya saya memang lebih memilih menyimpan hidup saya rapat-rapat.
Tapi seberapa berat beban hidup yang harus saya pikul, sayalah yang merasakannya sendiri. Kamu tahunya kan hanya melihat dan menilai. Tahunya hanya menyangka dan menyimpulkan. Kamu sungguh tidak tahu apa-apa. Karena toh saya memang hanya bercerita pada Tuhan saja.
Fiuh.. tentu saja saya tidak bisa selalu menyenangkan hati semua orang, tidak bisa selalu mengedepankan perasaan orang lain. Tapi apa mereka yang berbicara seperti itu pada saya selalu siap untuk mendengar kejujuran dari saya?
Saya beritahu, 80% isi kejujuran itu pahit. Bila setiap manusia memilih untuk mengatakan segala yang ada di kepalanya, saya yakin dunia ini sudah hancur dari jaman Dinosaurus. Bayangkan bila setiap kali kamu tidak meyukai seseorang atau sesuatu dan kamu mengatakan langsung di depan orang itu maka apa yang akan terjadi? Saya tahu jujur itu baik, tapi menyimpan hal yang tidak patut diucap bukanlah berbohong.
Pada kenyataanya, setiap kali saya dituntut untuk terbuka, saya justru kerap didiamkan. Katanya mau mendengar yang senyata-nyatanya? Katanya mau mengerti yang sebenar-benarnya? Kalau ternyata kenyataan yang saya ungkapkan tidak sesuai dengan cara pandang hidup atau prinsipmu, kamu pasti akan kecewa. Walau pada kenyataannya, saya tidak pernah berniat membuatmu kecewa atau merasa tidak nyaman.
Jadi katakan saja siap, bila memang benar siap mendengar kejujuran dengan kepala dingin. Siap mencari jalan keluar jika ternyata kita berbeda. Jalan keluar yang bukan saling membelakangi atau mendiami.
Saya meyakini bahwa tidak semua kebenaran perasaan harus ditunjukkan. Menyimpannya bukan berarti berbohong. Belajar menyimpan sesuatu yang tidak sepantasnya diungkapkan melatih kebijaksanaan yang ada di dalam diri kita. Belajar untuk tidak egois dan mau benar sendiri. Karena nyatanya mereka yang menuntutmu untuk berterus terang belum tentu siap mendengar kejujuranmu.
Yah.. saya mengerti dengan baik kalau saya ini orangnya rumit. Saya sulit ditebak. Saya pandai sekali menutupi kekhawatiran hingga banyak sekali yang merasa tidak apalah mengecewakan Vi sedikit, toh dia mudah lupa nantinya, toh dia sulit marah, toh dia pasti akan maafkan. Saya kerap terlihat tidak peduli, padahal saya menyaksikan dan menilai semua hal secara rinci dan teliti.
Diam-diam begini saya pun menilai dan menyaksikan kalian. Diam-diam saya pun terus mendoakan mereka yang saya sayangi, agar suatu hari nanti Tuhan tunjukkan pada mereka bahwa saya tidak pernah berhenti bicara soal kebaikan-kebaikan mereka kepada Tuhan. Merayu Tuhan agar menjaga mereka setiap waktu untuk saya, karena saya mungkin tidak bisa setiap waktu selalu ada untuk mereka.
Saya terkesan sedang pencitraan ya? Hahaha, apalah yang bisa dibanggakan dari gadis desa ini, yang tinggal dua batang kara bersama Ibunya. Saya tidak punya apa pun untuk membuat kalian iri. Percayalah.
Hati yang baik selalu tahu mana yang harus disimpan dan mana yang harus ditunjukkan. Dan kita harus selalu bisa memahami kenapa seseorang lebih memilih tidak bicara sama sekali, karena mereka pasti punya alasan kuat untuk melakukannya. Setidaknya saya masih belum lelah menjaga perasaan orang-orang yang saya sayangi. Walau tetap saja saya masih kerap jadi yang disalahkan. Tidak apa-apa.
Kamu sayang atau tidak pada saya sih itu urusanmu sama Tuhan. Saya sayang kamu atau tidak pun adalah urusannya saya dengan Tuhan saya.
Walau pada kenyataanya, mereka yang mengenal saya secara langsung saja tidak bisa mengenal saya dengan sepenuhnya. Apalagi yang hanya mengenal saya dari dunia maya.
Tidak ada yang bisa melebihi kekuatan tatapan mata langsung dan banyaknya waktu bertemu untuk bersama-sama saling mengenali. Tidak akan pernah ada.
Tidak akan ada perhatian yang melebih kekuatan perhatian yang disampaikan langsung. Seperti tidak akan ada yang melebihi kekuatan pelukan dan genggaman tangan. Tidak akan pernah ada.
Semua alat komunikasi yang diciptakan, justru semakin menjauhkan kita dalam mengenal baik orang lain.
Jadi menyimpulkan seseorang begini dan begitu hanya dari tulisannya adalah omong kosong. Segala pujian bisa hilang saat mata dipertemukan. Segala angan-angan baik bisa menguap saat saling bertatap.
Kenali saya dengan baik. Berhenti mereka-reka yang baik, yang belum tentu benar sebaik itu.
Selamat membaca saya yang sebenarnya di Tahun ini ;)
Lia Selvia