Monday, June 4, 2018

Berlalu

Sekarang kamu begitu kabur dari pikiran saya, saya hanya ingin mengingatmu sebentar saja. Akan tetapi, dan entah mengapa begitu sulit mengingatmu.

Mengapa? Saya hanya ingin mengingatmu sebentar saja, dan ingin merindukanmu sebentar saja. Tapi keinginan itu tak mampu menjelma menjadi nyata, bahkan diri saya sendiri tak mampu mengabulkan keinginan saya.

Bukan saya tak ingin mengingatmu, tetapi rasa ini yang menguasai diri saya yang memang seharusnya dan di haruskan bahwa yang telah pergi tak perlu kamu kembalikan.

Seketika hati yang pernah kamu tinggalkan dan yang pernah saling memiliki, bahkan tak ingin sama sekali untuk saling melepaskan. Nyatanya tidak, kamu dan saya sudah sepakat untuk berpisah, kamu yang memilih jalanmu dan saya yang memilih jalan saya sendiri.

Saya pernah berharab bahwa hidup saya akan saya habiskan bersamamu, tetapi apa yang saya dapatkan dari harapan saya sendiri? Hanya luka yang saya dapat.

Terkadang saya geli mengharapkan sesuatu yang memang tak pantas untuk saya harapkan, bukankah harapan-harapan yang bisa menjelma menjadi nyata adalah mengharapkan dari-Nya.

Ketika saya duduk di tepi jendela dan menatap bintang, saya begitu tenang dengan keadaan saya sekarang. Saya tau bahwa mengingat sesuatu yang memang harus dilupakan tak pantas untuk di ingat lagi dan mengingatnya hanya menyesakkan dada.

Saya yang mewakili hati saya, saya sangat bersyukur bahwa sesuatu yang "baik" pergi tak perlu untuk di sesali. Saya yang menganggap kamu baik dari pandangan saya, tetapi tidak dari pandangan-Nya.

Terimakasih kamu yang pernah hadir dan mengisi hari-hari saya dan yang pernah memperjuangkan saya dengan begitu sangat. Saya sama sekali tidak menyesali pertemuan kita, karena saya tau pertemuan kita adalah atas izin dari-Nya. Dan juga saya sangat mensyukurinya karena kamu saya paham akan perjuangan dan saya mengerti bahwa berjuang di akhir takkan pernah bisa mengembalikanmu.

Saya yang dengan keadaan saya sekarang, saya harap kamu mengerti bahwa bahagia saya tidak selalu denganmu, kamu yang pernah bersama saya mari kita saling mengikhlas dan berdamai untuk tidak saling mendendam. Pahamilah dan kamu "Berbahagialah". Kamu dengan hidupmu saya dengan kehidupan saya, kita tak lagi sama.                                                                                                                                                                                                         

Terimakasih.

No comments:

Post a Comment