Kalau ada yang paling saya inginkan dari seseorang yang saya sayang adalah waktu dan juga kesabaran. Saya tidak begitu peduli soal sebanyak apa dia bisa memberikan materi juga janji—bila dia tidak bisa menyediakan waktu dan tidak mampu menghadapi kelemahan saya. Ada banyak waktu ketika saya harus menghadapi pasangan yang lebih banyak mengambil keuntungan dari keberadaan saya, daripada berusaha untuk memberi kehadiran di saat saya membutuhkan dirinya. Well dulu saya memang sepolos dan se-naif itu. Saya tidak berpikir banyak soal apa saya sedang dimanfaatkan atau saya sedang senang menjadi bermanfaat untuk dia yang saya sayang. Tapi menjalani yang demikian ternyata sangat melelahkan.
Saya ingat ada momen di mana orang yang saya sayang sudah bisa melangkah lebih jauh di depan dan dengan begitu saja meninggalkan saya tanpa aba-aba. Dia berhasil menemukan kebahagiaannya yang lain lebih dulu, dan dengan senang hati memamerkan kebahagiaan itu. Bodohnya, saya bahkan tidak sanggup kecewa padanya—saya justru lebih suka mencari-cari apa yang salah yang ada di dalam diri saya sampai dia tega melakukan hal seperti itu. Saya mulai menyalahkan banyak bagian dari diri saya, kemudian merasa tidak pantas untuk dicintai dengan baik.
Padahal apa yang menjadikan saya dan dia pada akhirnya tidak bisa bersama adalah karena salah satu di antara kami memang sudah tidak bersedia ‘hadir’ untuk yang lain. Sehingga tidak ada yang perlu ditanyakan—bila akhirnya justru menyakitkan. Saya hanya perlu lebih berani untuk menyayangi diri sendiri—sehingga tidak lagi ada seseorang yang saya biarkan hadir hanya untuk menjadi hal yang kelak saya sesali.
Ini menjadi pengingat yang baik, bahwa tidak ada cinta yang hadir bila tanpa kesediaan untuk selalu saling hadir. Bahwa waktu adalah hal terbaik yang bisa diberikan oleh seseorang yang mengatakan bahwa kamu adalah segalanya baginya. Tanpa keduanya, maka bisa jadi kamu sedang menjalani omong kosong terpahit dari jatuh cinta sepihak.
No comments:
Post a Comment